Jakarta Museum_2

Museum Tekstil

Daya Tarik 0rnamen Kain

Walaupun lokasinya strategis dan cukup dekat dengan pusat perdagangan Pasar Tanah Abang, tapi keberadaannya seperti jauh dari jangkauan pandangan mata. Gedung museum yang menyimpan ribuan koleksi kain ini seolah-olah malu menampakan diri. Pengunjung pun harus berusaha ekstra keras untuk dapat menemukan sosok museum ini.

Tapi, pencarian yang tidak gampang itu dijamin sepadan dengan suasana yang disajikan didalam museum. Halaman museum yang hening,teduh ,nyaman,dan asri menjadi awal yang menjanjikan. Kondisi itu terus terjaga sampai kedalam gedung utama yang memajang segala keindahan koleksinya. Tak berhenti disitu,suasana menyenangkan jugaterasa dipekarangan yang sejuk dibagian belakang. Ya, itulah gambaran umum yang disunguhkan museum yang terletak di jalan KS Tubun no.4 ini. Agak mendapat informasi yang lebih lengkap, ada baiknya kita sejenak mundur untuk menelusuri sejarah perjalanan gedung museum ini.

Menengok kesana silam, gedung museum yang dibangun pada abad ke-19 ini awalnya adalah rumah tinggal milik orang perancis. Bangunan tempat tinggal itu kemudian dijual kepada Abdul Aziz Al Munawi Al Kaitri,konsul turki yang menikahi putri Raja Bengkulu. Putra sulungnya yang bernama Syarifah Maryam dan menantu laki-lakinya, Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, kemudian membeli rumah tersebut. Syaid Abdullah yang dikenal dengan julukan “Tuan Baghdad” menjual kembali rumah itu pada 1942. Setelah itu beberapa kali berpindah kepemilikan, Departemen Sosial RI membelinya pada 11 juni 1952.

Pada 25 0ktober 1975 rumah itu diserahkan kepada pemerintah kota DKI Jakarta. Demi melestarikan budaya tekstil Indonesia Gubernur Jakarta kala itu, Ali Sadikin, menetapkan bangunan bekas rumah tinggal itu menjadi tempat mengumpulkan,merawat,mencatat,menerbitkan, dan memperkaya data-data tekstil nusantara. Akhirnya, museum yang berdiri diatas lahan seluas 16.410 m2 itu diresmikan pada 28 Juni 1976. Himpunan wastraprema sebuah komunitas pecinta kain,tenun, dan batik Indonesia sangat mendukung didirikannya museum ini dan membantu dengan memberikan sumbangan tekstil yang sangat berharga sebagai koleksi museum.

Sensasi Simbol Budaya

Seluruh koleksi yang ada dimuseum ini berhubungan dengan dunia tekstil. Mulai dari peralatan pemintal benang,peralatan tenun,hiasan-hiasan,kain tenun,kain non tenun seperti kulit kayu dan kulit binatang serta pakaian jadi. Koleksi tersebut berasal dari hasil sumbangan,hibah, dan pembelian yang dikumpulkan dari paruh pertama abad ke-20 sampai sekarang. Dari sekitar 1.800 koleksi yang dimiliki museum, hanya 120 buah yang dipilih untuk dipamerkan atau dipublikasikan. Koleksi yang dipamerkan diruang pamer tetap itu merupkan perwakilan dari semua produk kain di nusantara. Dibuat oleh para desainer kondang dan masyarakat pecinta tekstil.

Koleksi-koleksi itu dipilih menurut corak dan daerah asalnya. Selain itu juga dikelompokan berdasarkan perkembangan, perubahan, serta kelangkaan motifnya. Secara garis besar dibagi menjadi 4 kelompok: 1) kelompok koleksi kain tenun, 2) kelompok koleksi kain batik, 3) kelompok koleksi campuran.

Selain memamerkan tekstil-tekstil Indonesia, musem megah berarsitektur art deco ini juga menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung yang berguna bagi pengunjung. Ada galeri tekstil kontemporer, ruang konservasi tekstil, art shop yang menyediakan cindera mata, dan perpustakaan. Diluar ruangan, Taman Pewarna Alam menjadi tempat yang menyenangkan sekaligus melengkapi musum ini. Taman seluas 2000 m2 itu berfungsi melestarikan dan memperkenalkan kepada pengunjung pepohonan yang bisa digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Ada 21 jenis pohon yang batang, daun, dan buahnya dapat diolah menjadi pewarna alami untuk tekstil. Diantaranya sawo penghasil warna cokelat, nangka penghasil warna kuning kayu, dan lobi-lobi penghasil warna merah.

Cagar budaya penuh koleksi kain dan busana tradisional maupun moderen ini menawarkan sensasi simbol-simbol budaya yang mengagumkan. Museum ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat penelitian dan pendidikan, juga bisa dijadikan sumber inspirasi bagi pecinta seni untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Sebagai sebuah lembaga edukasi kultural, Museum Tekstil telah memberikan sumbangsih bagi pelestarian dan perkembangan industry pembuatan tekstil di Indonesia.

Museum Wayang

Ketika Boneka Bicara Budaya

Pagelaran wayang di Nusantara sepertinya sudah kalah pamor dengan pertunjukan-pertunjukan music yang lebih digemari masyarakat, terutama kaum muda. Terlebih music dangdut yang selalu menjadi acara andalan dan favorit disetiap hajatan. Tak dapat dimungkiri bahwa wayang sudah menjadi tontonan yang asing bagi masyarakat Indonesia. Diperlukan usaha yang keras dan serius agar wayang tetap dikenal dan dicintai oleh bangsa ini, agar eksistensinya di akui didunia internasional .

Wayang sudah dikenal sejak abad ke-10. Pada masa lalu, wayang dikenal sebagai hiburan rakyat yang mampu merasuk keseluruh elemen masyarakat bangsawan , rakyat jelata, pemangku pemerintahan, golongan tua, golongan muda, kaum pria maupun wanita. Begitu populernya wayang ketika itu, sampai-sampai hampir disetiap hajatan dipentaskan cerita wayang. Namun, kini wayang sudah nyaris terlibat budaya pop barat.

Sebagai warisan leluhur yang indah dan bernilai budaya tinggi, wayang sudah semestinya dipertahankan dan dilestarikan. Pendirian museum wayang sungguh suatu usaha yang patut didukung dengan koleksi yang berjumlah ribuan, usaha melestarikan dan mempromosikan budaya agung ini diharapkan akan berhasil. Tentunya, dengan dukungan yang solid dari setiap elemen yang berkaitan.

Sejarah gedung museum

Kisah berdirinya museum wayang cukup panjang. Awalnya, gedung yang dijadikan museum ini adalah sebuah gereja tempat beribadah penduduk sipil dan tentara- tentara Belanda yang tinggal di Batavia. Gereja yang didirikan oleh VOC pada 1640 itu bernama De Oude Hollandshe kerk (gereja lama Belanda). Karena dianggap perlu dipugar, maka pada 1732 dilakukn perbaikan secara bertahap sekaligus mengubah namanya jadi De Nieuwe hollandsche kerk (Gereja Baru Belanda).

Gempa yang terjadi pada 1808 merusak bangunan gereja. Kondisinya parah, nyaris tinggal reruntuhan. Kemudian, gedung Gereja itu dibangun kembali.

Pada 1912, bangunan bagian depan dirombak dan dibuat bergaya Neo Renaissance. Perubahan itu ditindaklanjuti dengan perombakan seluruh gedung, disesuaikan dengan gaya rumah Belanda. Ketika itu tersebut dimiliki oleh sebuah perusahaan yang bernama Geo Wehry & co. dan dipergunakan sebagai gedung.

Pada 1936, gedung tersebut sempat dijadikan monumen. Kemudian, pada tahun 1937 dibeli oleh Bataviasche Genootschaap van Kunsten en Wetenschappen, yaitu sebuah lembaga yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia.

Pada 22 Desember 1939, Gubernur Jendral Belanda terjhir, Tjarda van Starkenborgh Strachouer, mengalihfungsikan gedung itu menjadi Museum Batavia Lama. Sayangnya, selama masa penduduk Jepang, museum itu tak terawat. Untunglah, pada 1957 LKI ( Lembaga Kebudayaan Indonesia ) bersedia mengelolanya dan mengganti namanya menjadi Museum Jakrta Lama. Kemudian, pada 1 agustus 1960 secara resmi kata “lama” dihilangkan dan namanya menjadi Museum Jakarta.

Pada 17 September 1962, LKI menyerahkan kembali museum tersebut kepada pemerintahan RI. Selanjutnya Museum Wayang sempat pindah ke gedung Stradhuis/balai kota yang sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Saat menghadiri Pekan wayang II pada1974, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin terkesan dengan hasil inventarisasinya dan kekayaan wayang Indonesia. Beliau lalu mengusulkan agar gedung bekas gereja ini dijadikan Museum Wayang, dan akhirnya, diresmikan pada 13 Agustus 1975.

Ada lebih dari 5.000 koleksi wayang dalam museum ini. Wayang-wayang dari berbagai daerah di Indonesia menjadi benda bernilai historis tinggi dan dipamerkan di lantai 2. Di antaranya ada yang berasal dari Jawa, Bali, Lombok, dan Sumatera. Ada juga wayang dari luar negeri,yaitu dari India, Pakistan, Malaysia, Polandia, Inggris, Suriname, Kolumbia, Tiongkok, Perancis, Thailand dan Amerik. Wayang-wayang dari luar negeri itu meliputi Wayang Golek, Wayang Kulit, Wayang Mainan, Wayang Boneka.

Dari cara penyajiannya, wayang dibagi dua. Pertama, wayang dua dimensi. Biasanya wayang jenis ini terbuat dari kulit yang ditatah dan didungging. Kala dipentaskan dalang, wayang dimainkan didepan layar yang diterangi lampu. Bisa dinikmati penonton dari depan maupun dari belakang layar. Kedua, wayang tiga dimensi. Wayang jenis ini terbuat dari kayu jenis wayang golek sunda. Di luar keduanya, masih ada wayang orang yang perannya dimainkan oleh manusia dengan memakai kostum wayang. Untuk jenis yang terakhir ini, tentu saja tidak ada didalam museum.

Selain wayang-wayang yang menjadi koleksi utama, berbagai perangkat gamelan yang mendukung pagelaran wayang yakni kendang, gambang, saron, kenong, bonang, peking, gender dan gong. Museum ini juga msih menyimpan Lampu Blencon, alat penerangan pada pertunjukan wayang kulit. Blencong yang terbuat dari perunggu berbentuk burung garuda yang sedang terbang itu di dadanya diberi sumbu untuk menyalakan api.

Sementara itu, di lantai dasar pengunjung dimanjakan dengan lukisan-lukisan yang bertemakan lakon dalam cerita pewayangan. Koleksi yang ada di dapat dari pembelian, hiba, titipan, dan sumbangan. Setelah menjelajahi museum ini, seyogianya pengunjung melakukan perenungan yang mendalam. Sebagai hiburan yang memuat ajaran moral dan pendidikan, wayang sangat penting keberadaannya. Wayang dapat menjadi media informasi yang mampu menyampaikan pesan-pesan secara efektif dan mandiri. Oleh karena itu, keberadaan wayang perlu kita lestarikan.

Kini keinginan pemerintah menjadikan Jakarta sebagai kota berdaya bertaraf Internasional sudah dibuktikan oleh museum wayang. Setiap hari ada saja tourist asing yang menyambangi museum ini.

Koleksi museum wayang

(witten by Fauziah,x upw smkn 27 jakarta,feb 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: