Jakarta Museums

MUSEUM BASOEKI ABDULLAH

Koleksi Lukisan Sang Maestro

Museum yang mengajak kita berkenalan dengan seorang seniman besar yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Lewat benda-benda peninggalannya, Basoeki Abdullah seolah hadir kembali di rumah tinggalnya.

M

useum ini berdiri bukan tanpa sebab.  Ada pesan yang mesti ditutaskan. Dulu, sebelum pelukis legendaries Basoeki Abdullah meninggal pada 5 November 1993, ia sempat memberikan wasiat. Jika sudah berpulang ke Rahmatullah, ia ingin agar semua koleksi  pribadi yang sebagian besarberupa lukisan dihibahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Tentu saja keinginannya itu berujung dengan harapan agar benda-benda sarat seni tersebut bisa diperkenalkan kepada masyarakat.

 

Atas prakarsa pemerintah, rumah tinggal kediaman maestro itu ditetapkan sebagai lokasi pendirian museum. Pada 1998, rumah yang berdiri di atas lahan 440 m2 itu direnovasi. Kemudian, beralih fungsi secara resmi menjadi sebuah museum pada 25 September 2001.

 

Untuk pemerhati seni, pelajar, atau siapapun yang menyenangi dunia seni, museum ini menjadi tempat yang sangat direkomendasikan. Kaerena, bukan saja menyuguhkan benda-benda mati penuh histori, museum dua lantai ini juga memberikan spirit kepada para penerusnya dalam dunia lukis-melukis.

 

Memorial Abdullah

Di bagian awal, museum ini mengajak para pengunjung untuk mengenal sejarah berdirinya museum dan riwayat hidup Basoeki Abdullah. Di ruang pengenalan ini pengunjung bisa mengetahui  kehidupan Basoeki Abdullah, keluarga, dan segala aktivitas melukisnya di dalam dan luar negeri.

 

Di ruang memorial, museum ini menampilkan suasana ruang tidur. Semua perlengkapan di ruangan itu tertata dengan rapi. Penataan koleksi benda-bendanya yaitu kursi, lemari, meja, lampu, dan buku sesuai dengan kondisi pada saat ia masih hidup. Di ruangan itulah ia bisa berdialog dengan Sang Khalik, mencari inspirasi, dan membaca buku. Tempat peristirahatan itu telah menjadi saksi bisu kehidupan sang maestro sekaligus menjadi kenangan pahit akan peristiwa kematiannya yang cukup tragis pada usia 78 tahun.

 

Di sudut ruangan lainnya, pada ruang pameran tetap, pengunjung bisa melihatberbagai koleksi pribadi Basoeki Abdullah yang berkaitan dengan benda-benda seni. Beberapa di antaranya adalah wayang kulit,wayang golek, boneka, topeng, dan patung. Sementara koleksi pribadi lainnya seperti mantel, yang di pergunakan saat berkunjung ke luar negeri, senapan, samurai, kacamata, sepatu, arloji, dan cindera mata juga ikut dipamerkan.

 

Beranjak ke ruang pamer lukisan di lantai dua, pengunjungi bisa menikmati hasil karya lukisannya yang dibagi menjadi tiga tema besar. Pertama, ruang pamer lukisan bertema pemandangan alam. Kedua, ruang pamer bertemakan manusia, potret, dan model. Saking jagonya melukis, kadang torehan sketsanya melahirkan wajah-wajah yang lebih cantik dan gagah daripada paras model aslinya. Kebanyakan tokoh dan model itu dilukis menggunakan cat minyak di atas kanvas. Ada Bung Karno, PM Benazir Bhuto, Sultan Hasanah Bolkiah, Ferdinan Marcos, Paus Yohanes Paulus, dan masih banyak lagi. Ketiga, ruang pamer yang menampilkan tema lukisan impresionis dan abstrak.  Meskipun sebenarnya Basoeki Abdullah beraliran naturalism dan masuk dalam jajaran pelukis ternama dunia lewat aliran itu, ia juga mengeksplorasi aliran-aliran yang lain untuk menciptakan gaya yang berbeda.

 

Sebenarnya museum ini memiliki 112 koleksi lukisan asli, tapi tidak semua dipamerkan. Karena keterbatasan ruang, koleksi  lukisan secara berkala diganti. Oleh sebab itu, saat berkunjung  kita hanya bisa melihat sebagian koleksinya. Lukisan selebihnya ada dirunag penyimpanan dan selalu dijaga serta dirawat agar tidak mengalami kerusakan.

 

Sebagai pelengkap, museum ini juga menyediakan fasilitas perpustakaan. Dengan layanan tertutup, perpustakaan khusus seluas 25m2 ini memberikan  jasa informasi kepada pengunjung. Kini, koleksi bukunya lebih dari 3.000 judul. Buku-buku ini bisa diakses lewat petugas perpusatakaan, namun hanya untuk dibaca ditempat.

 

Sebagai sosok yang telah mengharumkan nama bangsa, Basoeki Abdullah sungguh-sungguh seorang maestro di bidangnya. Jasanya yang tiada tara telah memompa semangat para generasi penerusnya untuk bisa mengikuti jejaknya menjadi seniman besar yang mampu membawa nama Indonesia ke dunia internasional. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

MUSEUM HARRY DARSONO

Pesona Ragam Adibusana

Bangunan bergaya Baroque, ruangan penuh benda artistic, koleksi busana yang indah, dan kecermatan dalam tata pencahayaan. Keempatnya berpadu dan menjadikan bangunan megah itu sebuah museum yang sangat mengesankan.

E

mpat belas tahun adalah waktu yang dihabiskan Harry Darsono di kota mode Paris, Prancis untuk belajar, mengasah ketajamannya dalam berkreasi membuat beragam busana. Selama itu pula jati diri Harry Darsono mulai terbentuk.

Terbiasa bergelut dengan benang dan bencengkrama dengan kain membuatnya tidak kesulitan mendalami dunia mode.

Perjalanan hidupnya dalam dunia fashion sangat yang panjang mengantarkannya menjadi salah satu perancang kenamaan Indonesia. Bahkan, pria kelahiran 15 Maret 1950 itu dikenal sebagai desainer multitalenta.

Berkat bakatnya, kini Harry telah memberikan sumbangsih berharga untuk bangsa Indonesia, sebuah museum fantastis dengan bentuk bangunan bak kastil di sebuah kerajaan. Museum yang berdiri di atas area seluas 1.000m2 itu merupakan wujud konkret kepedulian Harry dalam memperkaya dunia seni yang digeluti selama hidupnya. Museum berlantai tiga itu secara resmi dibuka pada 2001.

Di dalam Museum berkategori fesyen dan seni yang pertama di Asia-Pasifik itu terdapat banyak karya megahnya. Bermacam karya seni yang dipamerkannya itu mencakup antara lain hasil kreasinya sejak tahun 1970 samapi sekarang pluis masterpiece-nya. Adibusana, lukisan di atas kain sutra, lukisan sulaman dekoratif dan kontemporer, desain perhiasan, desain trofi, benda-benda antic, serta koleksi barang langka peninggalan zaman kuno dari balai-balai lelang di penjuru dunia, tersimpan secara aspic di sini. Keindahan hasil karaya seninya sungguh membuat decak kagum para pengunjung. Sejauh mata memandang, pengunjung dimanja dengan keelokan dan keunikan beragam karya seni yang tiada tara nilainya.

Selain dipamerkan di mueum yang berlokasi di kawasan Cilandak itu, sebagian koleksi karya seniinya juga disimpan oleh banyak museum dimancanegara maupun di Indonesia.

Agak berbeda dengan museum-museum di Indonesia pada umumnya, di museum Harry Darsono, para pengunjung diperbolehkan meyentuh atau memegang benda-benda koleksinya, bahkan koleksi eksklusifnya. Para pengunjung yang ingin mencoba mengenakan busana koleksinya pun diijinkan.

Selain ruang koleksi karya seni, museum ini juga dilengkapi dengan ruang sinema, perpusatakaan, ruang pertemuan, dan balkon-balkon yang sangat luas. Semuanya itu bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi soal duni fesyen, berdiskusi, dan tempat rekreasi pengunjung kala bertandang ke museum ini.

Setelah menikmati berbagai koleksi karya seni dan fasilitas lain yang sangat berkesan, pengunjung akan sampai pada puncak perjalanan menelusuri museum ini di lantai paling atas, yaitu lantai tiga. Di sana terdapat kubah, menara, dan taman di atas atap. Di lantai ini pengunjung dapat melihat para pemagang yang sibuk bekerja di dalam dan diluar ruangan. Disini pengunjug akan disuguhi pertunjukan music-musik klasik dari si empunya museum yang didampingi oleh beberapa penyanyi opera.

Tidak rugi datang ke museum yang pernah  menerima kunjungan kehormatan dari ibu Negara Korea Selatan ini. Pantas saja, Museum Harry Darsono menjaditempat wisata di Jakarta Selatan yang direkomendasikan oleh pemerintah.

Kini, lupakan dulu wisata ke mal. Cobalah berkunjung ke museum yang setiap sudut ruangannya memancarkan nuansa eksotis. Apalagi kalau bukan Museum Darsono. (*)

Museum Layang-Layang Indonesia

Bermain di Negeri Awan

Bertutur soal keindahan, bercerita tentang filosofi dari nilai arsitektur yang terkandung di dalamnya, dan memberikan pesan kekayaan Indonesia.

s

ehabis hujan turun, pelangi tak malu-malu memamerkan keindahannya dengan lengkung bak busur di atas hamparan alam semesta. Sang Surya membantu kemunculannya dengan membiaskan titik-titik air di udara. Berpendar dalam warna-warni yang cemerlang, menghias langit yang telah kembali biru.

 

Selain muncul dalam momen-momen langka sepreti itu, pelangi juga bisa ditemui di daerah pegunungan. Tapi, jika Anda ingin melihat warna-warni yang lebih banyak ragamnya dengan pemandangan mengagumkan, museum layang-layang adalah salah satu tempat yang tepat untuk dikunjungi.

 

Warna-warni yang dimaksud terlukis pada bidang sebuah permainan mengasyikan yang bisa diterbangkan ke angkasa. Ya, layang-layang dalam banyak jenis dan keunikannya mengisi dinding-dinding gedung utama museum ini.. Ada yang menggantung di atas langit-langit pendopo, ada yang tertengger di pilar-pilar bangunan, dan ada yang tertata apik di dalam kotak-kotak kaca.

 

Adalah Endang Widjanarko Puspoyo yang telah menjadi dalang atas lahirnya museum ini. Pakar kecantikan asal Pontianak, Kalimantan Barat itu punya andil luar biasa. Kecintaan kepada dunia laying-layang yang dimulai sejak 1985 membuatnya ingin melampiaskan segala hasratnya dengan membentuk Merindo Kites and Gallery. Sejak itu, berbagai penyelenggaraan festival layang-layang berhasil ia wujudkan. Tidak hanya di Jakarta festival itu yang berlangsung, di daerah-daerah pun tak ketinggalan diadakan perlombaan seni dan keterampilan di udara dengan medium layang-layang. Pada 1985, pusat pembelajaran yang bertujuan melestarikan budaya Indonesia mulai menggalakkan kecintaan akan layang-layang. Langkah yang diambil adalah memperkenalkan dan menanamkan kecintaan akan layang-layang ke sekolah-sekolah formal (khususnya SD dan sekolah menengah asing) maupu informal demi menyebarkan virus kreativitas membuat dan memainkan layang-layang.

Puncak perjuangannya adalah mendirikan Museum Layang-layang Indonesia yang diresmikan oleh I Gede Ardika, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, pada 21 Maret 2003. Bersamaan dengan itu, pemerintah menetapkan museum tersebut sebagai salah satu tempat wisata dan pusat budaya yang paling direkomendasikan di Jakarta Selatan. Potensi dengan mempromosikannya kepada masyarakat dan dan mengajak mereka untuk lebih mengenal laying-layang sebagai kekayaan budaya bangsa yang patut dilestarikan.

 

 

Menemukan lokasi museum ini memang tidak mudah, namun juga tidak sesulit yang dibayangkan. Keberadaannya seperti rumah tinggal biasa. Namun, di dalam museum yang berdiri di area seluas 3.000m2 ini tersimpan banyak ragam pengetahuan yang sebelumnya nyars tak terpikirkan.

Sesuai dengan namanya, museum ini mengoleksi banyak sekali laying-layang beserta pernak-pernik pendukung lainnya. Tapi, jangan mengira Anda akan bosan bila berkunjung ke sini. Jika sudah menyimak pesan dari apa yang dipaparkan di sana, dijamin Anda akan berdecak kagum sekaligus muncul rasa keingintahuan yang menggebu. Ya, Museum Layang-Layang Indonesia ini berhasil menegmas nuansa edukatif secara rekreatif. Dijamin, Anda akan kerasan menelusuri ruangan yang dipenuhi warna dan aneka bentuk unik ini.

Bagaimana dengan haraga tiket? Memang agak mahal. Tapi, jangan mundur dulu. Jangan pula membanding-bandingkan dengan kebanyakan museum lain yang umumnya mematok harga tiket masuk dibawah lima ribu rupiah. Di Museum Layang-Layang Indonesia, harga memang lebih mahal, tapi sepadan dengan apa yang didapatkan. Harga tiket sudah selayaknya tidak menjadi alasan bagi Anda untuk berpaling. Sebab, pengetahuan yang Anda terima sangat banyak dan manfaatnya seluas samudra.

Pusat Edukasi

Sebelum melakukan tur keliling museum, Anda akan disuguhi filom menarik perihal sejarah layang-layang, kegiatan-kegiatan festival yang pernah terselenggara, dan pelajaran cara membuat menelisik lebih jauh jenis layang-layang dan filosofi di balik desain bentuknya.

Berkunjung ke museum ini bak bertandang ke negeri awan. Setelah mendapat gambaran umum, Anda diajak tur bersama untuk melihat-lihat hasil karya seni yang indah, berwarna-warni, dan bisa diterbangkan. Di sana dipamerkan banyak jenis layang-layang tradisional khas beberapa daerah di Indonesia, layang-layang kreasi yang dinikmati keindahannya, dan layang-layang yang dipergunakan untuk kegiatan olahraga. Selain informasimengenai ketiga jenistersebut, lewat penjelasan pemandu yang selalu setia menemani, Anda juga akan mendapatkan informasi yang jarang diketahui masyarakat umum. Ternyata, layang-layang bisa dimanfaatkan untuk bidang teknologi seperti membangkitkan tenaga listrik, sebagai alat bantu dalam peperangan yakni untuk memantau gerak-gerik musuh, memancing ikan di laut, mengangkat barang-barang berat, mengukur panjang lorong bawah tanah, dan mengusir serangga.

Koleksi layang-layang yang dipamerkan di museum ini tidak hanya buatan anak-anak bangsa tetapi juga layang-layang dari mancanegara. Seolah tidak mau kalah, layang-layang dari berbagai negeri ituikut menyemarakkan ruangan utama museum ini.

Di sudut lain, perangkat bahan-bahan dasar untuk membuat layang-layang tertata di atas meja melingkar. Ada rangka dari bambu, kertas untuk membuat badan layang-layang, lem, perekat,benang jahit, cat air, kenur,spidol, dan alat lukis lainnya.

 

Tidak afdal rasanya kalau Anda hanya melihat-lihat. Anda mesti merasakan proses pembuatan layang-layang. Museum ini memberikan pelajaran cara memuat layang-layang secara sederhana dan cuma-cuma atau mungkin sudah termasuk dalam harga tiket masuk. Anda akan diajari dari cara merakit sampai mewarnai dan menghiasnya.

 

Jadi, museum yang dilengkapi kolam renang ini juga menyuguhkan banyak informasi. Sungguh, tempat yang sangat menarik untuk wisata para keluaraga di Jakarta, terlebih lagi bagi para pelancong dari luar. Oleh karena itu, sebutan Pusat Edukasi layak disandangkan kepada museum ini.

Museum Purna Bhakti Pertiwi

Pengabdian Sang Jenderal Besar

 

Pada 27 Januari 2008, Haji Muhammad Soeharto mangkat, berpulang kepada Sang Khalik dan melafalkan selamat tinggal kepada rakyat. Sebagai salah satu warisannya, museum ini merekam jejak pengabdiannya selama mengemban tugas sebagai Presiden RI ke-2

 

Seorang istri adalah tiang Negara. Hal itu tcermin pada diri Ibu Negara yang pernah menyemangati Pak Harto selama hidupnya, sejak zaman revolusi sampai periode pembangunan. Peran Ibu Tien Soeharto sebagai pendamping sungguh luar biasa. Kesetiaannya membayang-bayangi sepak terjang sang suami dan sangat mempengaruhi keteguhannya dalam berprinsip. Segala badai dan tantangan yang pernah menghampirinya selalu dihadapi dengan kekompakan. Semua itu demi pengabdian kepada bangsa dan Negara. Ibu Tien ingin sekali berbagi kepada rakyat Indonesia sekaligus mengajak mereka bersama-sama menyaksikan perjalanan hidup seorang jendral besar yang lahir di dusun Kemusuk itu. Keinginannya itu diwujudkan lewat museum yang berdiri di atas lahan seluas 19,730 hektar.

 

Mulanya, dalam perjalanan menjadi orang nomor satu di Indonesia selama 32 tahun, Pak Harto kerap mendapatkan kenang-kenangan berupa cendra mata dari berbagai kalangan. Anugerah dan hadiah itu beliau dapatkan dari sahabat-sahabatnya setiap melakukan kunjungan ke berbagai Negara atau dari kepala-kepala negara yang beranjangsana ke Indonesia. Tidak sedikit pula handai taulan dari dalam negeri yang memberikan cindera mata, kado, atau semacamnya sebagai kenang-kenangan. Semua itu ada yang diberikan atas nama pribadi, dan ada pula yang atas nama bangsa.

Hal itulah yang melatari pendirian museum berlantai 7 ini. Benda-benda bersejarah itu secara otomatis menjadi milik bersama, milik bangsa Indonesia. Ya, Pak Harto adalah milik bangsa Indonesia, rakyat punya hak dan akses untuk ikut menikmati semua koleksi yang ada. Museum Purna Bhakti Pertiwi menjadi fasilitas public yang dikelola oleh Yayasan Museum Purna Bhakti Pertiwi yang dibentuk dengan Akta Notaris R. Mochono, SH  pada 22 Agustus 1983

 

Lokasinya diapit oleh jalur masuk utama Taman Mini Indonesia Indah dan Masjid At – Tin. Dengan bentuk bangunan yang unik, charisma museum yang diresmikan pada 23 Agustus 1993 itu terpancar keseluruh penjuru yang mengelilinginya dan menambah kekaguman pengunjung. Dari segi arsitektur, gedung yang mengambil konfigurasi menyerupai nasi tumpeng itu mempunyai arti filosofis tersendiri. Dari sana tersirat pesan simbolik bahwa kita sebagai anak bangsa harus senantiasa bershyukur dan bertakwa kepada Sang Pencipta agar diberikan kemudahan dan keselamatan dalam menggapai cita – cita bangsa. Secara keseluruhan, museum ini dibagi menjadi dua kategori. Pertama, bangunan utama sebagai ruang pamer. Kedua, beberapa bangunan penunjang.

Terencana dalam Pengelolaan

Museum yang memiliki luas bangunan 25.095 m² ini memang agak jauh dari Gerbang Penerima. Tapi jangan khawatir, pengunjung diberi fasilitas mobil terbuka yang cukup nyaman untuk antar jemput. Sesampai di lobi, pengunjung akan diajak masuk ke sebuah ruangan melingkar, Ruang Perjuangan. Ruangan ini beratap kerucut yang sisi-sisi temboknya dipenuhi relief. Di sana terpajang juga ukiran yang terbuat dari batang kayu pohon sawo kecik setinggi 9 meter yang berdiri indah persis di tengah.di ruang seluas 1.215 m² ini pengunjung akan diajak mengenal sejarah perjuangan pak Harto, yang terekam pada relief yang terdiri dari lima panel. Dimulai dari kelahiran dan masa kecil Pak Harto sampai periode pasca kermerdekaan dn masa pembangunan. Masih di ruang perjuangan, namun di lantai dua, pengunjung di suguhi foto-foto sewaktu beliau melakukan pertemuan kenegaraan ataupun bertandang ke luar negeri. Di sini djuga beragam koleksi seragam dan aksesoris lainnya yang pernah dipakai selama pengabdiannya kepada Negara. Berbagai tanda jasa dan plakat dipajang bersama anugerah-anugerah lainnya di ruang perjuangan ini.

 

Dari situ, pengunjung bisa melanjutkan tur ke dalam ruang pamer utama yang dijaga oleh dua patung garuda pada pintu masuknya. Ruangan yang sangat lapang itu dikelilingi 9 kerucut kecil. Dengan luas 18.605 m2, ruang pamer utama menampung banyak koleksi pribadi milik Soeharto dan keluarga. Berbagai cindera mata dari pelosok tanah air serta manca negara ikut mengisi kamar-kamar kaca yang dijadikan tempat penataan. Benda-benda dari luar negeri dikelompokkan menurut benua : Amerika, Afrika, Asia, dan Eropa. Beberapa di antaranya adalah piring porselen dari Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton pada waktu acara di Istana Merdeka, 11 September 1995. Guci pemberian Fidel Castro, Presiden Kuba, saat KTT Gerakan NonBlok X di Jakarta, 7 September 1992. Kotak cerutu dari timah pemberian Sultan Hasanah Bolkiah, 8 November 1997, dan masih banyak koleksi menarik lainnya yang dipamerkanl. Yang pasti, penataan dan klasifikasi benda-benda yang dipamerkan sangat rapid an memudahkan pengunjung merunut dan menikmatinya. Hal ini menandakan bahwa museum yang diresmikan 23 Agustus 1993 ini sungguh terencana, rinci, dan apik dalam pengelolaannya.

Secara umum, benda-benda koleksi yang ada di lantai satu ruang pamer utama terbuat dari kristal, porselen, ukiran kayu, logam, dan kerajinan batu. Keindahan benda-benda itu, tak ayal lagi, mengundang decak kagum dan membuat kita sejenak merenung. Ternyata, kita pernah mempunyai seorang pemimpin yang punya banyak sahabat di dunia. Perjalanan Pak Harto ke berbagai negara untuk mempererat tali silahturahmi sungguh meninggalkan jejak yang tak terhapuskan.

Jika di lantai pertama nuansa budaya dunia lebih teras, di lantai dua atmosfer budaya Nusantara lebiuh dominan. Ada berbagai tekstil dari beraneka ragam bahan dan corak yang berasal dari berbagai daerah. Semua itu ditata dengan sangat menarik menyelimuti pinggir ruangan.

Diantaranya ada songket,batik sulaman, tenun ikat, dan border. Koleksi seperti barong, rumah toraja, dan lukisan juga menyemarakkan ruangan ini. Sementara itu, di lantai 3 dipamerkan beberapa benda seperti kalung, giwang perak, dan alsesori lainnya yang terbuat dari batu-batuan, tulang dan kuningan. Di sini dipajang pula beberapa boneka berpakaian adat, replica mobil, dan patung-patung tentara mini yang terbuat dari timah.

Semua koleksi tersebut dipamerkan dalam ruang tetap yang menempat tiga lantai. Empat lantai berikutnya digunakan sebagai ruang untuk kepentingan pengelola.namun, masih ada dua ruang lain, yaitu ruang khusus yang berisikan benda-benda bernilai sangat istimewa bagi keluarga Soeharto dan ruang Asthabarata yang menyimpan koleksi keluarga berupa wayang dan ukiran kayu dari batang pohon meranti yang memuat cerita Wahyu Cakraningrat.

Di ruang pamer luar, ada tiga mobil kepresidenan yang pernah digunakan Pak Harto danIbu Tien pada masa-masa wal menjabat sebagai presiden dan ibu negara. Ada pula Kapal Perang RI Harimau yang memiliki arti historis bagi Pak Harto. Dulu, kapal tersebut pernah digunakan Pak Harto dalam operasi Mandala, yakni sewaktu memimpin perebutan Irian Barat dan kolonialisme Belanda.

Untuk menunjang kelengkapan informasi, museum ini juga menyediakan fasilitas perpustakaan yang memiliki koleksi lebih dari 5000 judul buku dna 4.500 album foto, kafetaria, mushala area bermain anak, halte mobil antar jemput, kolam pemancingan, dan toko cindera mata yang menjual buku serta VCD biografi Soeharto.

Setelah mengunjungi museum yang menyimpan koleksi sebanyak 17.000 lebih ini, pengunjung diharapakan memeperoleh wawasan tentang sosok Pahlawan Pembangunan Indonesia yang pernah memimpin 200 juta rakyat Indonesia, sekaligus mengenal kekayaan budaya Indonesia. Di sisi lain, kehadiran Museum Purna Bhakti Pertiwi diharapakan menjadi alat untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di mata dunia. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

MUSEUM PUSAKA

Jauh dari Kesan Angker

Walaupun keris mendominasi koleksi pusaka yang ada, museum yang atmosfer spiritualitasnya sangat terasa ini juga memerkan senjata tradisional lain, seperti tombak, kujang, badik, mandan, panah, golok dan pedang.

M

elihat bangunan yang di atapnya terdapat keris menjulang memang bisa menimbulkan kesan dan persepsi macam-macam. Persepsi bahwa bangunan tersebut adalah tempat untuk melakukan ritual magis mungkin membuat kita segan mengunjunginya. Kesan seram, penuh keheningan, bertabur sesajen, dan keramat bisa saja terlintas dalam benak pengunjung.

Betul. Ketika memasuki bangunan yang terbentuk limas terpancung itu, kita pasti mengira benda-benda sacral yang ada di dalamnya akan memancarkan sinar yang menakutkan dan membawa aura yang menyeramkan. Namun, kesn itu sedikit demi sedikit akan sirnabegitu kita menikmati benda-benda koleksi dan menelaah asal-usul serta proses pembuatannya. Dengan mengamati, kita tidak lagi memandang benda-benda itu dari sudut pandang klenik. Mungkin akhirnya kita malah berdecak kagum mengetahui nilai seni dan historis dari benda-benda koleksi museum yang memiliki luas 1.535 m² ini.

Konon, pusaka adalah senjata yang digunakan oleh nenek miyang kita. Keberadaannya patut dihormati; dan yang penting, benda-benda pusaka itu dirawat secara khusus. Kita patut merasa beruntung dan bangga memiliki Museum Pusaka yang berlokasi di komplek Taman Mini Insonesia Indah (TMII). Pasalnya, benda-benda pusaka bernilai tinggi yang disimpan di museum ini telah menjadi saksi bisu sejarah bangsa kita, sekaligus merupakan warisan budaya para leluhur kita. Pendirian museum ini dimaksudkan memberikan informasi kepada masyarakat, terutama kepada generasi penerus, agar memahami karya besar bangsanya.

Kebanggaan kita bertambah ketika UNESCO, badan PBB yang mengurusi bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, menobatkan keris Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2005. Sebagai mahakarya agung warisan leluhur yang telah diakui dunia, keris menjadi salah satu benda tradisional di dunia yang mempunyai bentuk khas.

Penuh Pesan Simbolik

Mulanya,benda-benda bersejarah yang ada di gedung pameran Tosan Aji milik Alm. Tjio Wie Tay alias H. Masagung (1927-1990) itu dikumpulkan atas prakarsa sang istri, Hj. Sri Lestari. Kemudian, sebagian besar dari benda pusaka itu dihibahkan kepada Hj. Siti Hartinah Soeharto selaku ketua Badan Pelaksana Pengelolaan dan Pengembangan TMII, seperti yang termaktub dalam kata Hibah No. 7 Tanggal 4 Februari 1993 di hadapan notaries Koesbiono Surmanhadi, S.H.

Museum yang berdiri di atas tanah seluas 3.800 m² itu akhirnya diresmikan pada 20 April 1993 oleh Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Museum berlantai dua ini memiliki berbagai ruang pelayanan, di antaranya ruang pameran, ruang bursa, ruang cindera mata, ruang diskusi berkapasitas 100 orang, ruang informasi ruang perpustakaan, ruang konservasi dan preservasi.

Ada sekitar 6.000 koleksi pusaka tersimpan di museum ini. Sebagian besar atau hamper 77% merupakan hibah dari gedung pameran Tosan Aji yang dulu berlokasi di Jalan Kwitang No. 13, Jakarta Pusat. Kini gedung pameran itu tinggal kenangan. Koleksi lainnya diperoleh dari membeli; sumbangan ulama, kyai, dan pejuang kemerdekaan; serta titipan para penggemar keris dan pusaka lainnya. Semua koleksi ditata rapi sesuai jenis pusakanya dan diurutkan dari zaman ke zaman. Berjajar dan siap memberikan pesan-pesan simbolik kepada para pengunjung. Setiap pusaka memiliki corak dan ornament yang unik dan mengandung makna dan pesan si pembuat.

Di lantai satu, disajikan koleksi pusaka tradisional dari semua provinsi di Nusantara. Di antaranya adalah pedang terpanjang di Indonesia yang sempat dicatat oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) pada 19 Oktober 2003. Pusaka ini berasal dari Banten, dibuat khusus untuk koleksi. Di lantai dua, pengunjung diajak mengenal motif-motif keris, tangguh pembuatannya, dan ragam hias ribahnya yang sarat seni. Dari situ pengunjung dapat melihat secara jelas gradasi artistic dari benda-benda pusaka tersebut, dan juga nilai keindahanya. Nilai edukasi dapat digali lewat mencermati sejarah dan, mungkin, proses pembuatan benda-benda pusaka tersebut. Satu hal yang perlu dicatat, museum ini jauh dari kesan angker.

Yang pasti, semua benda koleksi Museum Pusaka sarat makna filosofis serta mengandung symbol kedaulatan dan spiritualitas. Kehadiran museum ini diharapkan dapat memberikan apresiasi terhadap benda pusaka sebagai karya seni nasional dan membantu masyarakat menemukan pemahaman yang tepat terhadap benda-benda pusaka.

Selain memamerkan benda-benda pusaka, museum ini juga memberikan jasa konsultasi mengenai pusaka dan memberikan sertifikat pengidentifikasian silsilah keris. (*)

 

 

MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK

Sajian Kreatif Para Seniman

Bertabur karya artistik, museum ini menampilkan koleksi-koleksi unggulan dari masa lampau yang klasik, sangat menarik, unik, danmempesona.


M

useum ini tidak kalah pamor dengan Meseum Wayang dan Museum Sejarah Jakarta yang lokasinya berdekatan. Meskipun kurang ramai dikunjungi pelancong, museum berbentuk bangunan bak istana presiden ini memiliki daya pikat tersendiri. Tampilannya mampu menyihir calon pengunjung yang lewat di depan halaman museum. Sejuknya udara di sekitar taman yang di tumbuhi pepohonan rindang, dan lapangnya pelataran dengan suasan nyaman, telah menggelitikmereka untuk menapaki museum ini. Delapan tiang besar yang berjajar di barisan depan gedung semakin memikat dan menambah rasa penasaran pengunjung untuk segera masu ke dalamnya.

Ada rangkaian ceritayang cukup panjang dari sejarah gedung ini. Awalnya, gedung ini adalah Kantor Dewan Kehakiman Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia) yang dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 21 Januari 1870. Namun, pada masa pendudukan Jepang pada 1944 dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung megah ini berubah fungsi menjadi asrama militer TNI dan gudang perbekalan. Pernah pula digunakan untuk kantor Walikota Jakarta Barat (1967) dan kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta (dari 1968 sampai 1975). Sejak 20 Agustus 1976 gedung ini dimanfaatkan sebagai Balai Seni Rupa, dan akhirnya, pada 7 Juni 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin diresmikan sebagai museum.

Suguhan Artistik

Museum yang sekarang menampung berbagai jenis koleksi keramik dan lukisan ini dibagi menjadi dua tema besar. Pada sisi kiri-kanan museum ini dipamerkan koleksi barang pecah belah. Sementara di ruang belakangnya dipamerkan koleksi lukisan karya pata seniman kondang.

Di ruang koleksi keramik, museum itu memamerkan keramik local tradisional dan asing, seperti kendi, tempayan, guci, piring, dan mangkuk. Koleksi keramik lokal ada yang berasal dari zaman Majapahit (sekitar abad ke-14). Dari koleksi tersebut pengunjung akan merasakan sensasi keindahan serta keistimewaan yang terpancar dari nilai historisnya. Selain itu, dipamerkan juga keramik dari berbagai sentra industry di wilayah nusantara seperti Aceh, Medan, Lampung, Jakarta, Purwakarta, Malang, dan Yogyakarta. Keramik-keramik tersebut memiliki beragam bentuk dan fungsi.

Keramik asing berasal dari abad 16 sampai awal abad 20 dan dikumpulkan dari berbagai negara. Setiap keramik memiliki cirri dan karakteristik tersendiri. Tengok saja keramik-keramik yang berasal dari Jepang, Belanda, Thailand, Vietnam, dan yang terbanyak dari China dari masa dinasti Ming dan Qhing.

Pada ruang pamer berikutnya, pengunjung akan dimanjakan lukisan-lukisan karya para seniman Indonesia sejak 1800-an sampai sekarang. Koleksi lukisan yang ada di museum ini dikelompokkan berdasarkan periode pembuatannya dan ditempatkan dalam ruang – ruang yang berbeda. Mulai dari ruang masa raden saleh (1880-1890), ruang masa hindia jelita (1920-an), ruang persagi(1930-an), ruang masa pendudukan jepang(1942-1945), ruang pendirian sanggar(1945-1950), ruang sekitar kelahiran akademis realism(1950-an), sampai ruang seni rupa Indonesia(1960-sekarang), semua karya lukis itu dibuat di atas kanvas dengan cat minyak.

 

Karya – karya pelukis kenamaan seperti affandi dan basoeki Abdullah menjadi lukisan favorit museum. Namun, ada juga lukisan lain yang digemari, yakni lukisan karya hendra gunawan yng berjudul pengantin revolusi karya Dullah yang berjudul “Ibu Menyusui”; dan karya S. Sudjojono yang berjudul “Seiko”. Di samping memajang karya pelukis Indonesia, museum ini juga memasang karya-karya pelukis asing yang sempat mewarnai dunia Seni Rupa Indonesia. Beberapa di antaranya senuman dari Eropa yang cukup dikenal dikalangan pecinta seni rupa seperti Antonio Blanco, Arie Smith, dan Lee Man Fong.

Tidak hanya para pelukis saja yang diberi ruang di museum ini. Insan-insan yang peduli kepada Seni Rupa Indonesia seperti penulis, pengajar, dan kritikus juga diperhatikan. Berkat pemikiran mereka yang dituangkan lewat media dan pendidikan, perjalanan Seni Rupa Indonesia dengan segala perkembangan yang menakjubkan tetap hidup dan terjaga. Beberapa kritikus yang menyumbangkan pemikirannya adalah WS. Rendra, Agus Dermawan T, dan Popo Iskandar.

Selain keramik dan lukisan museum yang mengambil bentuk bangunan jaman romawi kuno ini juga memamerkann patung khlasik, seni grafis, dan sketsa. Melengkapi kooleksinya, museum ini juga menyediakan bahan bacaan yang berhubungan dengan benda – benda koleksi lewat perpustakaan khusus. Disediakan pula toko cindera mata yang menjual barang-barang lucu dan menarik untuk kenang-kenangan seperti kartu pos, kerajinan, kipas, dan patung.

Pada akhirnya, semua benda yang tersimpan dalam lemari kaca yang menempel di dinding museum itu bukanlah pajangan semata. Benda-benda itu bercerita lewat bentuk yang artistic, warna yang beragam, dan rangkaian sejarah yang dirajut seiring perkembngan seni rupa Indonesia.

 

 

MUSEUM TEKSTIL

Daya Tarik Ornamen Kain

Di dalam bngunan cagar budaya ini tersimpan kekayaan peradabab Indonesia yang tiada tara. Peradaban yang diwujudkan dalam berbagai ragam tekstil nusantara dengan segala ragam hias dan waenanya yang memikat.


W

alaupun lokasinya strategis dan cukup dekat dengan pusat perdagangan pasar tanah abang, tapi keberadaannya seperti jauh dari jangkauan pandangan mata. Gedung museum yang menyimpan ribuan koleksi kain ini seolah-olah malu menampakan diri. Pengunjung pun harus berusaha ekstra keras untuk dapat menemukan sosok museum ini.

Tapi, pencarian yang tidak gampang itu dijamin sepadan dengan suasana yang disajikan di dalam museum. Halaman museum yang hening, teduh, nyaman asri yang menjadi awal yang menjanjikan. Kondisi it terus terjaga sampai ke dalam gedung utuma yang memajang segala keindahan koleksinya. Tak berhenti di situ, suasana menyenangkan juga terasa di pekarangan yang sejuk di bagian belakang. Ya, itulah gambaran umumyang di suguhkan museum yang terletak di jalan KS tubun no. 4 ini. Agar mendapat informasi yang lebih lengkap, ada baiknya kita sejenak mundur untuk menelusuri sejarah perjalanan gedung museum ini.

Menengok ke masa salim, gedung museum yang dibangun pada abad ke-19 ini awalnya adalah rumah tinggal milik orang prancis. Bangunan tempat tinggal itu kemudian dijual kepada Abdul Azis Al Munawi Al Katiri, konsul Turki yang menikahi putrid Raja Bengkulu. Putra sulungnya yang bernama Syarifah Maryam dan menantu laki-lakinya, Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, kemudian membeli rumah tersebut. Syaid Abdullah yang dikenal dengan julukan “Tuan Baghdad” menjual kembali rumah itu pada 1942. Setelah beberapa kali berpindah kepimilikam, Departemen Sosial RI membelinya pada 11 Juni 1952.

Pada 25 Oktober 1975 rumah itu diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta. Demi melestarikan budaya tekstil Indonesia, Gubernur Jakarta kala itu, Ali Sadikin, menetapkan bangunan bekas rumah tinggal itu menjadi tempat mengumpulkan, merawat, mencatat, menerbitkan, dan memperkaya data-data tekstil nusanara.

(written by okti & judith,x/xi upw smkn27 jakarta,feb 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: